Laman

Selasa, 27 November 2007

Anak Sekarang


" Mas Zaki, sudah shalat belum?"
"Sebentar Yah, lagi nonton Naruto dulu!"

"Teteh Jasmine, sudah mandi?"
"Teteh lagi gambar dulu yah!"

"Adek Marsha mau makan?"
"enggak!"

Wah, jadi orang tua di jaman sekarang, tantangannya sungguh berat. Kalau jaman kita dulu, mendengar orang tua kita berteriak, perasaan sudah gemetar duluan. Tidak pernah ada keberanian untuk menatap wajah orang tua kita. Tapi metode itu kelihatannya sudah tidak cocok diterpkan kepada anak - ank kita.

Kalau disuruh melakukan sesuatu, pertanyaannya panjang. "Emang kenapa harus begitu? kalau aku mau begini boleh ngak?"
Belum lagi serbuan tipi dan pe- es , makin menambah berat perjuangan kami, sebagai orang tua. Kadang - kadang penyesalan sering keluar, ketika secara tidak sadar , pola pengasuhan dengan "metode kekuasaan" saya pergunakan. Perintah dengan nada membentak, kadang menakut-nakuti mereka dengan sapu lidi dan sebagainya sering saya pergunakan. Hasilnya, anak tetap saja tidak selalu menurut. Dan sayapun sering meneteskan airmata, ketika pada malam harinya, melihat mereka tertidur pulas dengan wajah polosnya.

Kesadaran untuk merubah metode pengasuhan sedikit demi sedikit muncul. Yang kami inginkan , adalah menjadikan anak - anak kami bisa menjadi teman ngobrol, teman curhat, teman diskusi. Sehingga mereka pun akan bebas berbicara kepada kami, tidak ada rasa ketakutan. Kami khawatir, kalau mereka sudah besar nanti dan mengalami masalah, mereka tidak membicarakan masalah mereka kepada kami, orang tuanya. Namun membicarakannya di antara teman - teman pergaulan sendiri. Dan ketika solusi yang mereka cari ternyata bukan solusi yang baik, pastilah penyesalan yang akan kami dapatkan.

Kami sekarang berusaha menahan diri ketika marah. Kalaupun ingin memerintahkan mereka melakukan sesuatu , kami sudah mulai mencoba strategi baru. Perjuangan yang sangat berat juga rupanya.

Ketika di rumah hanya ada telur sebagai teman nasi, dulu pertanyaan yang kami lemparkan adalah

"Mas Zaki, mau makan apa? telor ya?" biasanya dia akan menolak,
"ngak mau, mas maunya sarden !" duh!
Tapi, sekarang kami punya cara baru, kami ganti pertanyaannya:
"Mas Zaki, telornya mau di ceplok atau di dadar campur kecap?".
Dan biasanya dia akan memilih salah satu dari dua tawaran kami, dan tidak minta lauk yang lain.

" Teteh , mandi dulu sana!", kami ganti dengan
"Teteh, mandinya mau pake air anget apa air dingin?"

"Adek mau makan?" kami ganti dengan
"Adek mau makan disuapin ayah apa ibu?"

Sedikit demi sedikit, kami pun bisa lebih menahan diri untuk tidak marah (lumayan lah bisa berkurang). Yang penting keinginan kami terpenuhi, dan insya Allah anak - anak kami juga mulai memahami keinginan orang tua mereka.

Suatu ketika saya baru pulang dari kantor, dan beristirahat melepas penat, anak kedua kami langsung menghampiri "Ayah, Teteh lepas ya kaos kakinya, ayah masih capek ya?"

wah, tentu saja saya takjub dengan tindakan si Teteh ini.

Setelah dia selesai melepas kaos kaki saya, dia terus berbisik
"Ayah, kalau ayah sudah ngak capek, Teteh dibeliin buku gambar ya?!"

Hehehehe, dia ternyata sudah mulai menerapkan strategi yang sama!

3 komentar:

  1. Wah...subhanallah, terima kasih sudah mengingatkan, Kang Yogi....
    Ya Allah, jadikanlah kami orang tua yang shalih/shalihah, agar anak shalih/shalilah menjadi keniscayaan yang Engkau karuniakan kepada kami....

    BalasHapus
  2. Mas Yogi, memang tuh saya juga susah sekali. Tapi alhamdulillah sejak usia dini anakku jarang dikasih tontonan kecuali lewat VCD/DVD misalkan tentang kisah para Nabi, cerita anak-anak islami. Alhamdulillah dengan tontonan spt itu, mudah sekali membujuk anak2. Karena ada tokoh2 yang bisa dijadikan panutan buat mereka. Ketimbang panutannya Naruto, avatar, dragon ball, power ranger, dsbnya. (sampe hafal judul2nya) :)

    Kalau tertarik VCD anak2 silahkan liat2 katalognya di situs saya. workstation.web.id

    BalasHapus
  3. huahahahaha...
    ketawanya dirapel skalian ya...
    pertam krn akhirnya dee bs tau wujudnya si mas zaki..buset dah..persis bgt ya ma bapaknya??? (untung ga opersis orang laen ya kang??hihihi)
    trs kedua..itu si teteh jasmine..cepet juga bljr strategi ayahnya..wah,...wah..berarti ga zaki ga jasmine..dua2nya dah bakat jd negosiator..dibina kang..sapa tau ntar bs bantu negara ngebalikin budaya-budaya daerah yg dah dicolongin ma malingsia..hihihi
    dah ah..sakit perut ni ketawa mulu...(psst...akhirnya si mas dpt PS ga??ato cm jasmine aja niy yg dpt buku gambar??)

    BalasHapus