Laman

Kamis, 22 November 2007

Orang Besar dan Sepatu Bally, Tiwul dan Burger


Sejarah melahirkan orang - orang besar pada masanya.Dan kebesaran mereka dicatat dalam hal yang beragam. Ada orang besar karena kekuasaan yang dimiliki. Lain orang tercatat sebagai orang besar karena perjuangannya. Ada pula yang besar karena kesederhanaan yang menjadi teladan kita. Diantara orang - orang besar itu ada yang tenggelam begitu saja ditelan debu - debu kehidupan, hanya sesekali diingat oleh generasi berikut, semoga tidak dengan nada mencibir. Namun, tak sedikit yang masih diingat kebaikan dan keteladanan mereka sepanjang masa.

Satu dari yang sedikit diantara mereka adalah Bung Hatta, Proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.
Sebagai seorang wakil presiden, memiliki sepatu merk Bally, mestinya tidak terlalu sulit. Ya, sepatu Bally pada masa itu adalah merk sepatu yang sangat bergengsi. (sampai saat ini). Beliau menggunting potongan iklan toko sepatu Bally tersebut dari sebuah harian ibukota, dengan harapan, suatu saat nanti, jika uangnya terkumpul, akan ke toko tersebut, tentunya untuk membeli sepatu yang diidam - idamkannya.

Namun, sampai ajal menjemput, keinginan itu tidak pernah tercapai, dan kliping potongan iklan sepatu tersebut menjadi saksi bisu sampai akhir hayatnya. Sebetulnya sangat mudah bagi beliau untuk bisa memiliki sepatu Bally tersebut. Tinggal menghubungi bawahannya, dan beres! sepatu pastilah tersedia. Namun, sebagaimana orang -orang yang besar karena kesederhanaan hidup mereka, pantang untuk menyusahkan orang lain dengan hal - hal seperti itu. Lebih baik bersusah - payah dan menempuh jalan berkelok, dibandingkan harus menyusahkan orang lain dan menggunakan aji mumpung punya kekuasaan.

Entah lah masa sekarang, apakah kita masih memiliki pemimpin dengan jiwa seperti itu. Ketika Malaysia mengklaim batik sebagai milik mereka, kita / dan pejabat tinggi kita keliatannya sibuk menggelorakan nasionalisme (nasionalisme batik). Namun, dalam kehidupan sehari - hari, mereka lebih senang memakai jas ketimbang menggunakan baju batik. Pejabat yang aneh?!!
Indonesia negeri tropis man!! pake jas??khan mau ketemu bule, terus, ruangannya ber AC! jas sudah menjadi pakaian standard Internasional!
Lho, katanya cinta Indonesia? Kok malah mikirin menghargai bule dan meninggalkan batik?

Kita ribut ketika tahu dan tempe dipatenkan orang lain, namun masih lebih memilih steik dan burger sebagai makanan favorit.dan mencibir tempe sebagai makanan kelas bawah. Tempe ? guwa banget !!. Lagu daerah kita diklaim negara lain, ribut!, tapi tanyakan lagu - lagu favorit mereka? dan coba disuruh menyebutkan lagu - lagu daerah Indonesia lainnya? auk ah gelapp!!
Makan tiwul? grontol? ndeso!!, orang sudah merdeka lebih dari 50 tahun kok masih makan tiwul !!

Kapan kah kita mendapatkan kebahagiaan di pimpin oleh negarawan yang betul - betul mengabdi kepada rakyatnya? Tentu saja bukan hanya di level RI1 dan RI2. Berharap, siapapun yang menjadi pimpinan, di level apapun bisa memberikan contoh /teladan kesederhanaan. Teringat sebuah suku/komunitas (di Sulawesi?) , ketika seseorang diangkat menjadi pemimpin komunitas tersebut, maka dia akan menjalankan pola kehidupan " jika daerah/negeri ini makmur, maka saya yang terakhir menikmati kemakmuran tersebut, dan jika negeri ini sedang mengalami paceklik, maka saya yang akan pertama - tama mengalami kesusasahan tersebut, biarlah rakyat saya tetap bisa hidup lebih baik dari saya." sebuah kearifan lokal yang mestinya ditiru oleh pejabat - pejabat kita (sambil berkhayal, suatu saat di telpon presiden untuk menjadi KABULOG)

Mimpi kali yeee???

Sudah ah mimpinya, lebih baik bikin usaha / bisnis yang bisa membuka lowongan kerja yang banyak, kemudian bisa mensejahterakan mereka (kalau ini mimpi yang harus dikejar bener-bener). Setidaknya, kita tidak menyusahkan orang lain karena bisa hidup mandiri, iya tohh? Tooohhh !!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar